Well, kita sudah banyak mendengar kiat dan tips bagaimana menjadi karyawan berprestasi dan berkontribusi dengan optimal di perusahaan hingga kita layak menyandang predikat terbaik. Bahkan akan lebih bagus lagi jika memang ada sayembara periodiknya atas pengukuhan tersebut atau paling minimal adalah adanya pengakuan lisan dari atasan kita (walau pengakuan di bonus akhir tahun sungguh menambah makna terbaik di hati dan pikiran karyawan.. wkwkwk)

Klo teman-teman pernah melihat film Man In Black yang pertama yang dibintangi oleh Will Smith dan Tommy Lee Jones sebagai duo agen pemerintah yang menjaga ketertiban dalam imigrasi dan emigrasi mahluk luar angkasa, kita dapat belajar makna terbaik dalam salah satu adegan film tersebut. Alkisah, Will Smith berperan sebagai Anggota Kepolisian New York yang direkrut secara rahasia untuk menjadi Men In Black. Tapi tidak hanya dia, melainkan ada prajurit dari kesatuan militer seperti Angkatan Darat, Laut, Udara, dan kesatuan Marinir yang turut serta dalam seleksi tersebut. Dalam satu adegan bahkan salah satu peserta Ketika ditanya kenapa kalian ada di tempat rekrutmen tersebut yang sangat rahasia, menjawab “because you are looking for the best of the best of the best, Sir!” dengan lantangnya yang kemudian ditertawakan oleh Will Smith. Loh kok bisa? Akhirnya dalam seleksi tersebut, Will Smith yang lulus sedangkan yang lain dikembalikan ke kesatuannya. Pesan dari adegan kisah ini adalah: untuk menjadi yang terbaik (bahkan dari yang terbaik) tidak cukup hanya kata-kata, slogan, dan niat, akan tetapi Hati dan Aksi yang berkesuaian dengan makna terbaik tersebut.

Ketika bicara Hati, ini yang paling sulit dan susah untuk dideskripsikan, karena tidak kelihatan, dan yang tahu hanya kita sendiri. Untuk itu, Ketika bicara hati, yang paling mudah adalah untuk mengecek pribadi kita masing-masing, dengan mempertanyakan: Ketika kita ingin menjadi yang terbaik, apakah kita mau untuk berperilaku sepertinya, dan apakah kita mampu? Jika jawabannya adalah YA, maka akan muncul pertanyaan berikutnya: “Jika YA adalah jawabanmu, apakah kita sanggup untuk menerima resiko dan konsekuensi Ketika kita gagal, dan tidak sombong jumawa dan tinggi hati Ketika kita berhasil? Jika jawabannya adalah SANGGUP, maka Hati kita sudah siap, jika belum maka, maknai kembali arti dari Terbaik, dan apakah kita mau untuk mengambil jalur tersebut.

AKSI adalah yang paling mudah untuk dikenali dan dinilai sebagai penakaran kita akan kinerja, kemampuan, tingkah laku yang mencerminkan unggul, digdaya, lebih dari yang lain, dan tentu saja berhak mendapatkan kriteria terbaik. Mulai dari sisi kedisiplinan, proses kerja, hasil kerja, inisiatif pro aktif, kemauan dan stamina kerja, sudah banyak pengukuran dan kuantifikasinya. Jika kita berhasil memenuhi semua syarat tersebut, bukankah kita sudah mengoptimalisasi kita dan pada akhirnya, turut memperngaruhi kinerja perusahaan kita?

Hati dan Aksi perlu seiring sejalan dan tidak bisa tidak, harus saling menjaga agar performansi kerja kita tetap stabil dan bahkan meningkat. Contoh paling sederhana keduanya kita perlukan, misalnya Ketika kita bicara kedisiplinan. Kita komitmen pada diri sendiri (Hati) untuk sampai di kantor selambat-lambatnya 15 menit sebelum jam masuk kantor agar dapat bekerja lebih awal dan memberikan kontribusi lebih kepada perusahaan (AKSI). Seiring berjalannya waktu, rekan kerja kita ada yang masuknya terlambat, ada yang masuknya setengah hari, tetapi tidak mendapatkan teguran atau hukuman apapun dari atasan atau departemen SDM tempat kita bekerja. Kita kemudian jadi berpikir, buat apa datang lebih pagi kalau yang telat saja tidak mendapat hukuman? Nah, pemikiran inilah yang menjadi pengurang terhadap makna terbaik jadi. Jika kita maknai salah satu indicator terbaik adalah datang lebih awal, pemikiran tentang rekan kerja yang terlambat datang seharusnya tidak ada dan biarkan mekanisme perusahaan yang bekerja, ada atau tidak ada peraturannya! Fokus pada apa yang menjadi standar perilaku kita, konsisten terhadapnya, dan ulangi terus komitmen tersebut tanpa adanya pemikiran terhadap karyawan lain, inilah makna dari integrasi HATI dan AKSI. Jika kita bisa melewatinya, akan tiba saatnya kita akan merasa lebih produktif, atasanpun akan melihat perbedaan kinerja (dalam hal ini kedisiplinan) kita dengan yang lain, dan tentu saja meskipun ada atau tidak ada penghargaan, kitalah yang paling puas terhadap pencapaian tersebut, dan inilah yang menjadikannya berharga.

Lalu, bagaimana menjadi yang terbaik di era “terbaik”? tunggu minggu depan ya..