Selamat Pagi rekans semua, semoga sehat dan tetap semangat selalu selamanya..

Jika minggu lalu kita dedah perihal menjadi karyawan terbaik dengan integrasi HATI dan AKSI, sekarang kita coba bahas era terbaik untuk menjadi karyawan terbaik.. yuk bisa yuk..

Pertanyaan pertama, era terbaik itu kapan sih? Apakah pada saat zaman Renaisannce? Apakah pada zaman Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan dengan hikayat 1001 malamnya? Atau era dimana Intelegensi Artifisial akan menjadi setara dengan kemampuan berpikir manusia sehingga bisa mengkarsa, berdaya, dan beralih rupa? Semua jawaban benar adanya, dan menjadi relative dikarenakan sejarah umat manusia penuh dengan milestone dan pencapaian sehingga tonggak pergerakan manusia menuju ke kemajuan menjadi tolak ukurnya. Tetapi jika secara individu ditanyakan, mungkin waktu/era terbaik itu ya sekarang. Saat ini. Kenapa?

Saat ini entah kita masuk generasi kategori manapun, tentu menghadirkan gejolak adaptasi yang luar biasa, dimana kita sudah hampir dua tahun ini menghadapi pandemi dengan pola adaptasi yang menuntut perubahan di tengah ketidakpastian, kehati-hatian ekstra atas penjagaan kesehatan fisik dan mental kita. 2020, memasuki dekade milenium baru, kita langsung diminta untuk adaptasi. Prinsip Do or Die, Adapt or Die, secara harfiah dan tersirat benar nyata adanya. Di 2021, pola adaptif sudah menjadi norma dan kebiasaan baru yang tentu saja berpengaruh dalam perspektif kita, misal, kita akan risih untuk keluar rumah tanpa masker, atau keengganan untuk bertegur sapa secara tatap fisik dan lebih memilih pertemuan daring, meski kita sebagai makhluk sosial, sungguh butuh kehadiran fisik untuk menguatkan nilai dan norma bersama dan agar kelekatan sosial kita tetap terjaga.

Lalu, pertanyaan kedua, bagaimana menghadapinya dalam dunia kerja dan pekerjaan kita sehari-hari? Seperti Heraclitus yang berfilosofi, “satu-satunya hal yang pasti adalah perubahan”, maka ya jawaban menghadapi perubahan adalah dengan berubah/beradaptasi/menyesuaikan. Kotaro Minami (tokoh fiktif legendaris yang sangat segmented-red) selalu berubah supaya tidak kalah, produk smartphone-pun demikian, selalu lahir seri terbaru agar tidak kalah di segmen pasarnya. Dengan era VUCA pada setiap aspek, khususnya dunia kerja saat ini (kita bahas VUCA pada segmen berikutnya), pertanyaan lanjutannya adalah: mau ikut berubah atau tidak? Apakah perubahan itu nyaman? Dan klo bisa nyaman, adakah caranya? Mari kita telisik satu-satu..

  1. Mau Ikut berubah: mungkin dulu ketika kita sedang menanjak karir dalam perusahaan, value kerja keras, loyalitas, dan top down management sangat kentara sekali. Cukup dengan manut, rajin, dan patuh, karir kita terjamin.. pertanyaannya, apakah sekarang itu bisa diandalkan? tentu bisa, karir kita sangat terjamin.. terjamin jalan di tempat, wehehe.. perusahaan dan manajemen juga butuh sikap kerja cerdas, inovatif, dan complex problem solver dari setiap karyawannya sesuai dengan peran dan posisi yang diberikan. Bagi karyawan yang bekerja pada perusahaan yang masih hanya mengedepankan value lama tanpa value plus plusnya seperti di atas, hati-hati.. kecuali anda mau mati hati..
  2. Nyamankah perubahan: bisa ya bisa tidak.. bagi individu yang menyukai tantangan lebih dan memiliki breakthrough attitude, perubahan adalah keniscayaan, and they embrace it.. bisa jadi sebaliknya, bagi mereka yang adem ayem, perubahan bagai pungguk merindu bulan.. bulan sudah melanglang dari barat ke timur, pungguknya ya bertengger saja, sesekali berceletuk, “Duh!”. So, kuncinya sih JALANKAN.. memang quite challenging untuk yang belum terbiasa, tetapi ketika sudah berada di dalamnya, pasti ada kesenangan dan kenikmatan disana, semoga juga kenyamanan..
  3. Bagaimana berubah dengan nyaman: ada tiga hal yang perlu disiapkan: SADAR dengan PILIHAN, ANALISA dan PILIH, serta buatkan LANGKAH EVALUASI.. PDCA sekali kan yah.. soal tiga cara ini akan dibahas pada artikel selanjutnya..

Konklusinya, jangan pernah takut pada perubahan, berterimakasih dan bersyukurlah, karena perubahan lah yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya dari sel yang (bisa jadi) tak punya makna..

“The moment I let go of it.. Was the moment I got more than I could handle..

The moment I jumped off of it.. Was the moment I touched down”

~Thank You, Alanis Morissette~