Menyambung dari artikel sebelumnya, menikmati perubahan sangat susah-susah mudah, terbayang dalam pikiran, tetapi sulit mewujudkan, susah digambarkan, tetapi banyak yang bisa direalisasikan. Kesadaran diri masing-masing individulah yang membimbing kepada bagaimana kita menikmati dan menjalaninya. Setelah sadar, sudah tepatkah langkah atau opsi yang kita ambil? Apakah sudah tepat pilihan tersebut? Dan bagaimana menjalaninya? Kita akan bahas satu persatu friends.. happy reading..

Pernahkah rekan-rekan bertanya dalam hati dan otak, kenapa karir dan gaji rekan-rekan stuck, kalaupun naik, hanya terbantu general increase akibat inflasi? Apa ada sesuatu yang salah? Don’t blame yourself, apalagi curhat di medsos, tiada gunanya.. daripada itu, cobalah rekan-rekan membuat analisa situasi terhadap hal ini. Mulai dari diri sendiri: bicara mengenai kompetensi kita, sudah mumpuni atau belum, sudah memberi kontribusi yang besar dan berpengaruh untuk perusahaan atau belum, inilah yang harus dianalisa lebih lanjut. Kemudian kondisi perusahaan tempat kita bekerja: apakah memang skala ekonomi perusahaan kita masih belum besar, sehingga memang belum memikirkan mengenai jenjang karir, atau adanya kebijakan tertentu yang memang membatasi karir kita, dan faktor yang lebih makro lagi semisal kebijakan pajak atau moneter atau kebijakan pandemic yang berpengaruh pada industri dimana perusahaan kita bergerak.

Kemampuan kita dalam menganalisa faktor-faktor kasus di atas bisa jadi dapat membantu kita untuk merangkai alternatif-alternatif pilihan. Dalam kasus di atas, jika kita sudah tau penyebab kenapa karir kita medioker dan  gitu gitu aja, maka kita bisa buat solusi dan langkah aksi untuk merubahnya. Jadi, sebelum sampai pada kesimpulan, buatlah beragam penyebab, analisis apakah ini akar penyebabnya, dan buatlah solusinya.

Kalau bicara tepat atau tidak tepat, rekan-rekan harus ingat, bahwa perubahan itu sangat dinamis dan tiada presisinya, perubahan itu sangat konsisten di perubahannya, bukan ketepatan hasilnya. Confusing ya? Well, analoginya misalnya karir rekan-rekan, kalau bicara karir stuck dan rekan-rekan sudah menganalisa bahwa faktor penyebabnya adalah kompetensi, apakah kemudian rekan-rekan berusaha mengembangkan kompetensi yang kurang? Jawabannya bisa ya bisa tidak.. loh kok? Kompetensi merupakah variabel yang unik tetapi dimiliki oleh setiap orang.

Poin penting dari kompetensi adalah cara meningkatkan kompetensi dan apakah kompetensi itu diperlukan. Misalnya, apakah kompetensi kita dalam cost control diperlukan dalam meracik menu restoran dibandingkan presisi dalam komposisi bahan masakan? Bagi juru masak, kompetensi memilih dan memilah bahan baku untuk sajian masakan lebih diutamakan, akan tetapi, bagi kepala koki, kedua kompetensi itu diperlukan bagi bisnis restoran, agar menu yang dihasilkan tidak overprice atau underrated rasanya. Get my point?

Mengembangkan kompetensi jelas bisa jadi solusi apabila itu diperlukan perusahaan dan memang posisi kita sekarang membutuhkan hal tersebut. Tapi akan jadi mubazir jika memang (belum) diperlukan.. tetapi tetap ada solusinya juga kok.. carilah perusahaan yang membutuhkan kompetensi anda yang sudah meningkat tersebut.

Selanjutnya adalah bagaimana menjalani perubahan dengan alternatif pilihan (solusi) yang kita telah dengan sadar memilihnya? Ya gak gimana-gimana.. toh sudah sadar, toh sudah menganalisa, toh sudah memilih.. ya tinggal jalanin saja.. menukil Almarhum Presiden Abdurrahman Wahid: gitu aja kok repot..

Happy Doing Friends..

We Do What We Have To, So We Can Do What We Want To.. ~Denzel Washington~