Sebagian besar kita mungkin kurang antusias jika mendengar kata evaluasi, review, dan mekanisme kontrol lainnya.. itu sangat manusiawi.. bagi manusia yang malas sih.. beda halnya kalau evaluasi akhir tahun semangat dan deg-degannya luar biasa, karena ujungnya satu: Bonus Akhir Tahun.. nah, jika kita memiliki mindset bahwa semua langkah evaluasi sebenarnya adalah penilaian atas prestasi kerja dan penghargaan, maka bisa jadi Evaluasilah yang kita tunggu selalu dengan penuh gairah dan keniscayaan.

Teman-teman, lakukanlah evaluasi atau self-assesment terhadap apa yang kita lakukan, sehingga bisa menentukan apakah ada masalah dalam apa yang kita lakukan dan bagaimana penanganannya serta rencana cadangan apabila solusi tersebut belum berhasil. Ada beberapa tips yang bisa dishare pada artikel ini:

  1. Buatlah evaluasi yang periodik. Lakukanlah evaluasi secara berkala, tetapi jangan sering-sering juga, karena belum tentu hasilnya terlihat. Biasanya jika kita sedang menapak karir, buatlah waktu antara per 6 bulan sampai dengan per 18 bulan untuk mengevaluasi karir kita. Kenapa 6 bulan dan 18 bulan? Umumnya dalam waktu 6 bulan kita dapat menguasai hal dasar dari pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita, dan dalam waktu 18 bulan seharusnya kita sudah sangat ahli disana. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ketika sudah ahli, apakah ada hasil kerja yang berubah secara signifikan? Adakah pengembangan terhadap prosedur atau proses bisnis perusahaan? Sudahkah kita memberikan kontribusi positif? Jika jawabannya Ya, bersyukurlah dan bersabarlah. Bersyukur karena ujungnya adalah prestasi kerja yang baik. Bersabar karena hasilnya akan memberikan kita benefit yang bermanfaat (salah satunya ya bonus akhir tahun). Jika Tidak, maka segera tetapkan langkah perbaikan dan rencana cadangan untuk mengejar ketertinggalan dan buatkan timeline yang mengakselerasi pembelajaran kita supaya lebih cepat dengan sisa waktu 6 atau 18 bulan tersebut.
  2. Evaluasi Sasaran dan hasil sementara. Analogi yang menarik adalah jika kita menyimak liga sepakbola di eropa, khususnya yang mungkin kita semua familiar, yaitu Liga Primer Inggris. Media seringkali mencari informasi terkait target tiap Klub Sepakbola, khususnya Big Four + 1 Liga Inggris (MU, Arsenal, Liverpool, Chelsea, dan Manchester City) rata-rata menargetkan Juara Liga pada akhir musim. Nah, proses evaluasi sasaran mereka, umumnya terjadi pada jendela transfer musim dingin pada bulan november – januari, dimana mereka sudah menjalani kompetisi selama setengah musim. Dari sinilah mereka melakukan review, apakah Target yang dicanangkan pada awal musim masih achieveable berdasarkan kondisi mereka sekarang di papan klasemen Liga. Dari situlah keputusan revisi target, penjualan atau pembelian pemain, perubahan formasi, dan sebagainya dicanangkan sebagai persiapan menjalani setengah musim kompetisi berikutnya. Hal ini lah yang seringkali kita gagal melihat, ketika sudah menetapkan Goals, ketika melihat hasil sementara, acapkali kita tidak mau melakukan modifikasi sasaran atau perubahan cara untuk tetap menggapai target tersebut. Evaluasi hadir untuk memberikan perspektif apakah target kita masih achieveable, perlukah merubah strategi, atau perlu adanya perubahan atau menggantinya dengan target baru.
  3. Rajin melakukan. Iya betul, anekdot devil in details kurang pas jika diterapkan di masa sekarang. Karena tanpa Kerajinan, semuanya akan jadi devil.. sikap ini yang dari jaman kita di pre-school sampai pendidikan formal terus dipertanyakan, ditumbuhkembangkan, dibina, diajarkan, dan diberi penilaian.. selain kedisiplinan dan kerapihan. Segitu pentingkah? Kerajinan bukanlah bahasa jaman dulu, kata ini harus jadi sikap dasar kita dalam berusaha dan berdoa. Semua yang diawali dengan rajin, Insya Allah berpangkal kebaikan. Kemauan dan kemampuan jika tanpa rajin, tidak akan memberikan kesinambungan yang diperlukan untuk melihat apakah kita sudah berhasil atau belum, sudah sukses atau belum, dan beragam tujuan yang ingin kita gapai.

Kesimpulannya adalah, sedapat mungkin kita mengevaluasi diri dan karir kita ke depannya, karena waktu terbatas, dan keterbatasan itu adalah keniscayaan kita untuk rajin berbuat lebih baik lagi dengan perencanaan, eksekusi, dan evaluasi yang sebaik mungkin.

Selamat Berkarir Rekans